Jumat, 28 November 2025

My Experience As a Altar Server

Hello everyone reading this article. This time, I will share my experience of becoming a Altar Server .I became an altar server three years ago, in 2022. I am still active as an altar server at St. Odilia Parish. I have had many experiences as an altar server, which have made me a better person than I was before.

On my first day of service, I was very nervous, considering it was my first day on the job. Many fears haunted me while I was working. But in the end, I overcame those fears after I finished my duties. After the first day, I became more courageous in serving because fear would only hinder my service. The most memorable service for me was when I served with Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, O.S.C., who is the bishop of the Bandung region and the chairman of the Indonesian Bishops' Conference. I was very happy to be able to serve with him, but on the other hand, I was also very nervous during the service because the Mass that day was an important one, even inviting a bishop. I served as the cross bearer and gong striker at the Mass. I also learned a lot about the roles of my friends who served with me. I served well during the Mass, even though there were still shortcomings in my service, but I will always strive to do my best in my service. 

I continue to study to become an altar server because my senior is leaving and I will become a senior. So I have to study so that I can be a good senior. The most enjoyable lesson for me is when learning to use the censer. A censer is an incense burner used to burn incense on the altar, the Gospel book, and so on during Mass. A censer is generally a metal container with a perforated lid and a chain attached to both sides. It is filled with burning charcoal, into which incense powder is placed and burned to produce smoke. It was difficult to master this tool, but I gradually got the hang of it. The first time I used a censer was during the celebration of Maudy Thursday. I was very nervous when holding the tool, but in the end I was able to use it during Mass. That day was also memorable for me because I was finally able to use the censer during Mass. Christmas was approaching, and I was assigned to serve as an altar server on Christmas Eve and Christmas Day. On Christmas Eve, I was on duty at 5:00 p.m. I was very nervous while serving, but I had to try my best to provide the best service for Christmas Eve. I served again as the cross bearer and bell ringer. My service was not perfect; there were still many mistakes. On Christmas Day Mass, I was assigned to work again at 8:30 AM. I was assigned again as the cross bearer and gong striker. The service I provided was still far from perfect, but what was most important was that I served with a sincere heart for God.

Being a altar server is not easy, but serving as a altar server with a sincere heart is the most important thing in ministry as a altar server. From being a altar server, I learned that the most important things in ministry are intention and humility, because sincere service will also bring great love to others. I also learned to be more obedient, faithful, and submissive to God's will because God knows what is best for me. I also learned that service does not have to be perfect as long as there is sincere intention from the heart, then that service will also be meaningful and can spread love to others. Perhaps that is all I can share, thank you.

 


Selasa, 25 November 2025

Saint Mary's Way

 

Asap Dupa Yang Menghantar Doa

Halo, teman-teman yang membaca artikel saya, bagaimana kabarnya? Semoga baik- baik saja ya. Kali ini saya akan membagikan pengalaman saya mengikuti program Saint Mary’s Way yang di adakan di sekolah saya yang bernama SMP Santa Maria. Di dalam program ini kami melakukan beberapa macam bentuk pelayanan diberbagai lingkungan, contohnya lingkungan gereja, lingkungan sekolah, dan lain lain.

BAGIAN “SEE” ( MELIHAT)

Pada hari Minggu, saya ditugaskan untuk menjadi Misdinar. Kebetulan, hari itu adalah Hari Raya Pengagungan Salib Suci, untuk menghormati Salib Kristus sebagai tanda kasih penyelamatan Allah. Perayaan ini juga memperingati penemuan kembali Salib Yesus oleh Santa Helena, dan mengingatkan kita bahwa salib bukanlah lagi simbol kehinaan, tetapi simbol kemenangan atas dosa dan kematian. Selama bertugas, saya melihat senyuman di wajah jemaat yang merayakan Hari Raya Pengagungan Salib Suci. Mereka datang ke gereja untuk menyambut kedatangan Yesus Kristus, Juruselamat kita. Saya sangat senang melihat antusiasme jemaat yang merayakan Pesta Pengagungan Salib Suci. Awalnya, saya merasa gugup tentang tugas-tugas saya karena ini adalah hari raya yang membutuhkan tingkat konsentrasi tinggi dalam pelayanan saya, tetapi pada akhirnya, saya dapat melaksanakan tugas-tugas saya dengan baik. Peran saya selama hari raya adalah sebagai pelayan altar yang memegang wiruk dan navicula berisi dupa. Saya sangat gugup karena tugas ini cukup sulit, tetapi saya tetap melayani sesuai dengan tugas yang diberikan kepada saya. Pada hari minggu selanjutnya saya ditugaskan kembali untuk menjad misdinar di minggu biasa, saya masih melihat semangat dari jemaat-jemaat yang masih mau memuliakan Allah, mereka semua sangat bersemangat dalam mengikuti perayaan ekaristi pada hari itu, pada saat hari itu saya bertugas sebagai pemukul gong pada saat Doa Syukur Agung, saya melayani dengan baik pada saat perayaan ekaristi saat itu. Pada hari minggu selanjutnya saya tetap melihat senyuman yang masih sama dari umat, persis seperti hari hari sebelumnya, semangat mereka masih sama. Pada perayaan ekaristi hari itu saya bertugas sebagai pemukul gong pada saat Doa Syukur Agung, sama seperti hari- hari sebelumnya saya bertugas dengan baik pada perayaan ekaristi saat hari itu. Saya sangat senang karena setiap saya bertugas saya bisa melihat senyuman senyuman yang sama dari para umat dan petugas- petugas lain, mereka juga memiliki semangat yang tidak pudar untuk memuliakan Tuhan.

·       BAGIAN “JUDGE” (MENILAI)

Dengan menjadi pelayan altar, saya belajar untuk rendah hati dalam pelayanan, karena pelayanan awalnya tumbuh dari hati yang rendah hati, bukan yang sombong. Saya senang menjadi pelayan altar meskipun tidak dipuji atas pelayanan saya, karena saya ingin melayani tanpa mengharapkan pujian. Menjadi pelayan altar juga memperkuat komitmen saya terhadap gereja dan iman saya kepada Tuhan, karena dengan menjadi misdinar, saya berkomitmen untuk melayani Tuhan dengan hati yang tulus. Menjadi pelayan altar juga merupakan bagian dari panggilan hidup saya sebagai murid Kristus. Pelayanan ini juga Adalah wujud dari kasih kepada Allah dan sesame karena melayani Adalah merupakan kegiatan berbagi kasih juga kepada sesama. Saya melihat Tangan Tuhan juga bekerja dalam setiap pelayanan yang saya lakukan Tangan Tuhan itu memberi petunjuk kepada saya dalam pelayanan saya, tidak hanya memberikan petunjuk bagi saya tapi juga kepada pelayan yang lain seperti Romo, Lektor, Pemazmur, Asisten Imam, dan kepada pelayan-pelayan lain, semuanya mendapat petunjuk dan bantuan dari tangan Tuhan untuk memberikan pelayanan dengan hati yang tulus.

Behold, I stand at the door and knock; if anyone hears My voice and opens the door, I will come in to him and dine with him, and he with Me.”- Revelation 3:20

·       BAGIAN “ACT” (BERTINDAK)

Refleksi ini akan mengubah sikap saya dan Tindakan saya selanjutnya karena dari refleksi ini saya belajar nilai nilai yang terkandung dalam pelayanan saya di gereja. Saya akan memperbaiki sikap saya yang kurang berkenan kepada orang orang di sekitar saya karena mungkin masih ada sikap saya yang masih kurang berkenan kepada sesama saya. Saya juga akan terus melayani di gereja walaupun nanti  bukan sebagai misdinar lagi, saya akan tetap menjadi pelayan bagi sesama dan Allah, karena manusia Adalah mahkluk sosial yang membutuhkan interaksi dengan sesamanya, dan pelayanan Adalah bentuk interaksi yang baik untuk sesama manusia bahkan manusia dan mahkluk lain juga masih bisa saling melayani. Saya juga ingin terus melayani Allah dengan hati yang tulus hanya untuk Allah, karena saya masih diberikan nafas untuk hidup, jadi saya ingin berbalas budi kepada Allah meskipun dengan pelayanan yang tidak sebanding dengan apa yang telah Allah berikan kepada saya. "I will always be humble wherever my feet tread."

My Experience As a Altar Server

Hello everyone reading this article. This time, I will share my experience of becoming a Altar Server .I became an altar server three years ...