Selasa, 25 November 2025

Saint Mary's Way

 

Asap Dupa Yang Menghantar Doa

Halo, teman-teman yang membaca artikel saya, bagaimana kabarnya? Semoga baik- baik saja ya. Kali ini saya akan membagikan pengalaman saya mengikuti program Saint Mary’s Way yang di adakan di sekolah saya yang bernama SMP Santa Maria. Di dalam program ini kami melakukan beberapa macam bentuk pelayanan diberbagai lingkungan, contohnya lingkungan gereja, lingkungan sekolah, dan lain lain.

BAGIAN “SEE” ( MELIHAT)

Pada hari Minggu, saya ditugaskan untuk menjadi Misdinar. Kebetulan, hari itu adalah Hari Raya Pengagungan Salib Suci, untuk menghormati Salib Kristus sebagai tanda kasih penyelamatan Allah. Perayaan ini juga memperingati penemuan kembali Salib Yesus oleh Santa Helena, dan mengingatkan kita bahwa salib bukanlah lagi simbol kehinaan, tetapi simbol kemenangan atas dosa dan kematian. Selama bertugas, saya melihat senyuman di wajah jemaat yang merayakan Hari Raya Pengagungan Salib Suci. Mereka datang ke gereja untuk menyambut kedatangan Yesus Kristus, Juruselamat kita. Saya sangat senang melihat antusiasme jemaat yang merayakan Pesta Pengagungan Salib Suci. Awalnya, saya merasa gugup tentang tugas-tugas saya karena ini adalah hari raya yang membutuhkan tingkat konsentrasi tinggi dalam pelayanan saya, tetapi pada akhirnya, saya dapat melaksanakan tugas-tugas saya dengan baik. Peran saya selama hari raya adalah sebagai pelayan altar yang memegang wiruk dan navicula berisi dupa. Saya sangat gugup karena tugas ini cukup sulit, tetapi saya tetap melayani sesuai dengan tugas yang diberikan kepada saya. Pada hari minggu selanjutnya saya ditugaskan kembali untuk menjad misdinar di minggu biasa, saya masih melihat semangat dari jemaat-jemaat yang masih mau memuliakan Allah, mereka semua sangat bersemangat dalam mengikuti perayaan ekaristi pada hari itu, pada saat hari itu saya bertugas sebagai pemukul gong pada saat Doa Syukur Agung, saya melayani dengan baik pada saat perayaan ekaristi saat itu. Pada hari minggu selanjutnya saya tetap melihat senyuman yang masih sama dari umat, persis seperti hari hari sebelumnya, semangat mereka masih sama. Pada perayaan ekaristi hari itu saya bertugas sebagai pemukul gong pada saat Doa Syukur Agung, sama seperti hari- hari sebelumnya saya bertugas dengan baik pada perayaan ekaristi saat hari itu. Saya sangat senang karena setiap saya bertugas saya bisa melihat senyuman senyuman yang sama dari para umat dan petugas- petugas lain, mereka juga memiliki semangat yang tidak pudar untuk memuliakan Tuhan.

·       BAGIAN “JUDGE” (MENILAI)

Dengan menjadi pelayan altar, saya belajar untuk rendah hati dalam pelayanan, karena pelayanan awalnya tumbuh dari hati yang rendah hati, bukan yang sombong. Saya senang menjadi pelayan altar meskipun tidak dipuji atas pelayanan saya, karena saya ingin melayani tanpa mengharapkan pujian. Menjadi pelayan altar juga memperkuat komitmen saya terhadap gereja dan iman saya kepada Tuhan, karena dengan menjadi misdinar, saya berkomitmen untuk melayani Tuhan dengan hati yang tulus. Menjadi pelayan altar juga merupakan bagian dari panggilan hidup saya sebagai murid Kristus. Pelayanan ini juga Adalah wujud dari kasih kepada Allah dan sesame karena melayani Adalah merupakan kegiatan berbagi kasih juga kepada sesama. Saya melihat Tangan Tuhan juga bekerja dalam setiap pelayanan yang saya lakukan Tangan Tuhan itu memberi petunjuk kepada saya dalam pelayanan saya, tidak hanya memberikan petunjuk bagi saya tapi juga kepada pelayan yang lain seperti Romo, Lektor, Pemazmur, Asisten Imam, dan kepada pelayan-pelayan lain, semuanya mendapat petunjuk dan bantuan dari tangan Tuhan untuk memberikan pelayanan dengan hati yang tulus.

Behold, I stand at the door and knock; if anyone hears My voice and opens the door, I will come in to him and dine with him, and he with Me.”- Revelation 3:20

·       BAGIAN “ACT” (BERTINDAK)

Refleksi ini akan mengubah sikap saya dan Tindakan saya selanjutnya karena dari refleksi ini saya belajar nilai nilai yang terkandung dalam pelayanan saya di gereja. Saya akan memperbaiki sikap saya yang kurang berkenan kepada orang orang di sekitar saya karena mungkin masih ada sikap saya yang masih kurang berkenan kepada sesama saya. Saya juga akan terus melayani di gereja walaupun nanti  bukan sebagai misdinar lagi, saya akan tetap menjadi pelayan bagi sesama dan Allah, karena manusia Adalah mahkluk sosial yang membutuhkan interaksi dengan sesamanya, dan pelayanan Adalah bentuk interaksi yang baik untuk sesama manusia bahkan manusia dan mahkluk lain juga masih bisa saling melayani. Saya juga ingin terus melayani Allah dengan hati yang tulus hanya untuk Allah, karena saya masih diberikan nafas untuk hidup, jadi saya ingin berbalas budi kepada Allah meskipun dengan pelayanan yang tidak sebanding dengan apa yang telah Allah berikan kepada saya. "I will always be humble wherever my feet tread."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

My Experience As a Altar Server

Hello everyone reading this article. This time, I will share my experience of becoming a Altar Server .I became an altar server three years ...