Asap Dupa Yang Menghantar Doa
Halo, teman-teman yang membaca artikel saya, bagaimana
kabarnya? Semoga baik- baik saja ya. Kali ini saya akan membagikan pengalaman
saya mengikuti program Saint Mary’s Way yang di adakan di sekolah saya yang bernama
SMP Santa Maria. Di dalam program ini kami melakukan beberapa macam bentuk
pelayanan diberbagai lingkungan, contohnya lingkungan gereja, lingkungan
sekolah, dan lain lain.
BAGIAN “SEE” ( MELIHAT)

Pada hari Minggu, saya ditugaskan untuk menjadi Misdinar. Kebetulan,
hari itu adalah Hari Raya Pengagungan Salib Suci, untuk menghormati Salib
Kristus sebagai tanda kasih penyelamatan Allah. Perayaan ini juga memperingati
penemuan kembali Salib Yesus oleh Santa Helena, dan mengingatkan kita bahwa
salib bukanlah lagi simbol kehinaan, tetapi simbol kemenangan atas dosa dan
kematian. Selama bertugas, saya melihat senyuman di wajah jemaat yang merayakan
Hari Raya Pengagungan Salib Suci. Mereka datang ke gereja untuk menyambut
kedatangan Yesus Kristus, Juruselamat kita. Saya sangat senang melihat
antusiasme jemaat yang merayakan Pesta Pengagungan Salib Suci. Awalnya, saya
merasa gugup tentang tugas-tugas saya karena ini adalah hari raya yang
membutuhkan tingkat konsentrasi tinggi dalam pelayanan saya, tetapi pada
akhirnya, saya dapat melaksanakan tugas-tugas saya dengan baik. Peran saya
selama hari raya adalah sebagai pelayan altar yang memegang wiruk dan navicula
berisi dupa. Saya sangat gugup karena tugas ini cukup sulit, tetapi saya tetap
melayani sesuai dengan tugas yang diberikan kepada saya. Pada hari minggu
selanjutnya saya ditugaskan kembali untuk menjad misdinar di minggu biasa, saya
masih melihat semangat dari jemaat-jemaat yang masih mau memuliakan Allah, mereka
semua sangat bersemangat dalam mengikuti perayaan ekaristi pada hari itu, pada
saat hari itu saya bertugas sebagai pemukul gong pada saat Doa Syukur Agung, saya
melayani dengan baik pada saat perayaan ekaristi saat itu. Pada hari minggu
selanjutnya saya tetap melihat senyuman yang masih sama dari umat, persis
seperti hari hari sebelumnya, semangat mereka masih sama. Pada perayaan ekaristi
hari itu saya bertugas sebagai pemukul gong pada saat Doa Syukur Agung, sama
seperti hari- hari sebelumnya saya bertugas dengan baik pada perayaan ekaristi
saat hari itu. Saya sangat senang karena setiap saya bertugas saya bisa melihat
senyuman senyuman yang sama dari para umat dan petugas- petugas lain, mereka
juga memiliki semangat yang tidak pudar untuk memuliakan Tuhan.
·
BAGIAN “JUDGE” (MENILAI)

Dengan menjadi pelayan altar, saya belajar untuk rendah hati dalam pelayanan, karena pelayanan awalnya tumbuh dari hati yang rendah hati,
bukan yang sombong. Saya senang menjadi pelayan altar meskipun tidak dipuji
atas pelayanan saya, karena saya ingin melayani tanpa mengharapkan pujian.
Menjadi pelayan altar juga memperkuat komitmen saya terhadap gereja dan iman
saya kepada Tuhan, karena dengan menjadi misdinar, saya berkomitmen untuk
melayani Tuhan dengan hati yang tulus. Menjadi pelayan altar juga merupakan
bagian dari panggilan hidup saya sebagai murid Kristus. Pelayanan ini juga Adalah
wujud dari kasih kepada Allah dan sesame karena melayani Adalah merupakan
kegiatan berbagi kasih juga kepada sesama. Saya melihat Tangan Tuhan juga
bekerja dalam setiap pelayanan yang saya lakukan Tangan Tuhan itu memberi
petunjuk kepada saya dalam pelayanan saya, tidak hanya memberikan petunjuk bagi
saya tapi juga kepada pelayan yang lain seperti Romo, Lektor, Pemazmur, Asisten
Imam, dan kepada pelayan-pelayan lain, semuanya mendapat petunjuk dan bantuan
dari tangan Tuhan untuk memberikan pelayanan dengan hati yang tulus.
“Behold, I stand at the door and knock; if anyone hears My
voice and opens the door, I will come in to him and dine with him, and he with
Me.”- Revelation 3:20
· BAGIAN “ACT” (BERTINDAK)

Refleksi ini akan mengubah sikap saya dan Tindakan saya selanjutnya
karena dari refleksi ini saya belajar nilai nilai yang terkandung dalam
pelayanan saya di gereja. Saya akan memperbaiki sikap saya yang kurang berkenan
kepada orang orang di sekitar saya karena mungkin masih ada sikap saya yang
masih kurang berkenan kepada sesama saya. Saya juga akan terus melayani di
gereja walaupun nanti bukan sebagai misdinar
lagi, saya akan tetap menjadi pelayan bagi sesama dan Allah, karena manusia Adalah
mahkluk sosial yang membutuhkan interaksi dengan sesamanya, dan pelayanan Adalah
bentuk interaksi yang baik untuk sesama manusia bahkan manusia dan mahkluk lain
juga masih bisa saling melayani. Saya juga ingin terus melayani Allah dengan hati
yang tulus hanya untuk Allah, karena saya masih diberikan nafas untuk hidup,
jadi saya ingin berbalas budi kepada Allah meskipun dengan pelayanan yang tidak
sebanding dengan apa yang telah Allah berikan kepada saya. "I will always be
humble wherever my feet tread."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar